Dari Papua Barat ke Dago Bandung.
Mama Tika lahir dari keyakinan sederhana: setiap anak Indonesia berhak bisa berhitung dan berlogika dengan benar. Bukan karena pintar dari sananya — tapi karena ada yang mau bersabar mengajarkan dengan cara yang tepat.
Jauh sebelum Math Gym berdiri, ada momen yang tidak bisa dilupakan. Anak-anak di pedalaman Papua Barat — yang sudah bisa memanen pala, memancing ikan, dan menangkap rusa — kebingungan ketika harus bertransaksi di pasar kota.
Mereka mampu bertahan hidup dengan skill luar biasa. Tapi ada yang kurang: kemampuan berhitung dan bernalar. Dari situ muncul kesadaran — bukan sains, bukan Bahasa Inggris yang paling mendesak untuk mereka. Tapi Matematika Dasar. Logika. Cara berpikir.
Setelah hampir delapan tahun di dunia korporat, rasa rindu untuk memberi dampak nyata itu tidak pernah pergi. Pasca-COVID menjadi titik balik. Ketika PJJ membuat orang tua stres dan anak-anak makin kebingungan dengan Matematika, satu hal menjadi jelas:
Yang salah bukan anaknya. Yang salah adalah media ajar, cara mengajarkan, dan kesabaran proses yang sering diabaikan.
Dari keyakinan itu, lahirlah Worksheet Mama Tika — diuji langsung ke murid nyata, dievaluasi soal per soal, diperbaiki sampai flow belajarnya terasa pelan namun pasti. Lalu Flash Card. Lalu Langganan. Dan kini, Math Gym.
Ini bukan corporate values yang dipajang di dinding. Ini yang benar-benar terasa di setiap sesi — dari cara Coach menyapa anak Anda sampai cara kami mengevaluasi hasil belajar.
“Membuat anak-anak Indonesia mampu berhitung dan berlogika dengan optimal — tidak hanya sekarang, tapi seterusnya.”
Dampaknya bukan hanya untuk anak. Tapi untuk orang tua yang tidak lagi stres mendampingi belajar. Untuk sekolah yang kini punya mitra yang sejalan. Dan untuk masa depan — generasi yang terbiasa berpikir logis sejak kecil.
Kurikulum antar sekolah tidak konsisten — ada yang belum ajarkan volume kubus, ada yang langsung lompat ke soal kompleks.
Anak bisa mengerjakan soal tapi tidak paham konsepnya — hafal rumus, tapi bingung ketika soalnya berubah bentuk.
Orang tua kesulitan mendampingi belajar math di rumah — terutama ketika metode yang diajarkan berbeda dengan yang mereka pelajari dulu.
Gadget dan layar jadi saingan terbesar waktu belajar — anak butuh lingkungan Screen-Free yang engaging agar bisa fokus.
Singapore konsisten berada di peringkat 1–3 Matematika dunia selama tiga dekade. Mama Tika mengadopsi metode ini karena satu alasan: ia bekerja — untuk semua level kemampuan anak, bukan hanya yang berbakat.
Bukan karena mereka harus jadi matematikawan. Tapi karena kemampuan berhitung dan bernalar adalah bekal paling fundamental untuk menghadapi dunia — apa pun profesi mereka kelak. Mama Tika ada untuk memastikan fondasi itu dibangun dengan benar, sejak dini.